Dinkes Bolsel Gelar Rakor Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting

by -4 views

ADVERTOTIAL,BOLSEL- Pemerintahn Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan gelar Rapat Koordinasi Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting, Senin (28/06/2021) kemarin.

Rapat Koordinasi yang digelar di Meeting Room Paloko Hotel Sutan Raja Kotamobagu, dibuka resmi Kepala Dinas Kesehatan Bolsel dr.Sadly Mokodongan dan didampingi Sekretaris Dinas Kesehatan Sarina Pautungan SE,MM, Kepala Bidang Kesmas I Nyoman Sukawanayasa, S.Kep, dan Kepala Seksi Kesga dan Gizi Mutiara Agustina Mokodongan S.St.

Beberapa hal yang dipaparkan dalam Rapat Koordinasi tersebut yaitu terkait Analisis Situasi Lokus Stunting dari 8 aksi Konvergensi tahun 2021,

Sosialisasi Peraturan Bupati Bolmong Selatan No. 26 Tahun 2021 tentang Peranan Desa Dalam Penurunan Stunting, Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting

Hadir dalam kegiatan tersebut yaitu Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Selatan Ramli Abdul Majid S Pd, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Suja Alamri S Pd, Asisten Bidang Administrasi Umum dan Keuangan Rikson Paputungan S Pd,MM, Kepala Bappelitbangda Harifin Matulu, S Pd, MAP, Kepala Dinas Pendidikan Rante Hattani S,Pd.M.Si, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Teddy manika, ST, Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Drs Alsyafri Kadullah MM, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Ekafrie Van Gobel S.STP, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Gunawan Otuh ,M.Pd, Kepala Dinas Sosial Nasrudin Gobel,ST, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Marwan Makalalag, S Pd, Kepala Dinas Kelautan Awaluddin Lamalani, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Dra.Suhartini Damo MM, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Ir.Surahmad Sugeng Purwono, Kepala Dinas Kominfo Aldi S.Gobel, Ketua Tim Penggerak PKK Bolsel Ny.Selpian Kamaru Manoppo, Camat dan Sangadi Lokus Stunting Tahun 2022, Kepala Puskesmas se-Bolsel, Pengeola Program Gizi Puskesmas.

Dalam sambutannya, saat membuka kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Bolsel menjelaskan tentang Pemetaan dan Analisis Situasi Program Stunting di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

“Stunting dan kekurangan gizi lainnya yang terjadi pada 1.000 HPK di samping berisiko pada hambatan pertumbuhan fisik dan kerentanan anak terhadap penyakit, juga menyebabkan hambatan perkembangan kognitif yang akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Stunting dan masalah gizi lain diperkirakan menurunkan produk domestik bruto (PDB) sekitar 3% per tahun, upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab langsung dan tidak langsung, diperlukan prasyarat pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan, upaya percepatan pencegahan stunting akan lebih efektif apabila intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif dilakukan secara konvergen,”jelas Sadly.

Lanjut dijelaskannya juga terkait Konvergensi penyampaian layanan yang membutuhkan keterpaduan proses perencanaan, penganggaran dan pemantauan program/kegiatan pemerintah secara lintas sektor untuk memastikan tersedianya setiap layanan intervensi gizi spesifik kepada keluarga sasaran prioritas dan intervensi gizi sensitif untuk semua kelompok masyarakat, terutama masyarakat miskin.

“Dengan kata lain, konvergensi didefinisikan sebagai sebuah pendekatan intervensi yang dilakukan secara terkoordinir, terpadu dan bersama-sama pada target sasaran wilayah geografis dan rumah tangga prioritas untuk mencegah stunting. Penyelenggaraan intervensi secara konvergen dilakukan dengan menggabungkan atau mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk mencapai tujuan bersama.

Upaya konvergensi akan terwujud apabila Program / kegiatan Nasional, daerah dan desa sebagai penyedia layanan intervensi gizi spesifik dan sensitif dilaksanakan secara terpadu dan terintegrasi sesuai kewenangan, Layanan dari setiap intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif tersedia dan dapat diakses bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan, terutama rumah tangga 1.000 HPK (ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia 0 – 23 bulan), Kelompok sasaran prioritas menggunakan dan mendapatkan manfaat dari layanan tersebut. Upaya Konvergensi percepatan pencegahan stunting dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi program/kegiatan,”ungkap Sadly.

Pada tahap perencanaan, konvergensi diarahkan pada upaya penajaman proses perencanaan dan penganggaran reguler yang berbasis data dan informasi faktual agar program dan kegiatan yang disusun lebih tepat sasaran melalui : (i) pelaksanaan analisis situasi awal; (ii) pelaksanaan rembuk stunting; dan (iii) penyusunan rencana kerja. Analisis situasi awal dilakukan untuk mengetahui kondisi stunting di wilayah Kabupaten, penyebab utama dan identifikasi program/kegiatan yang selama ini sudah dilakukan.

Dari analisis ini diharapkan dapat menentukan program/kegiatan, kelompok sasaran, sumber pendanaan dan lokasi upaya percepatan pencegahan stunting di daerah, yang kemudian diterjemahkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD), Rencana Kerja Organisasi Perangkat daerah (OPD) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

 

 

Aspriadi Paputungan