Sejarah Terbentuknya Desa Posilagon

by -10 views

LS,BOLSEL-Desa Posilagon adalah salah satu definitif di Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, desa ini sebelumnya merupakan bagian dari desa pendukuhan Onggunoi Kecamatan Pinolosian yang didefinitifkan pada tahun 1997 oleh Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow (Sebelum Bolaang Mongondow dimekarkan).

Berdasarkan letak geografis, Desa Posilagon terletak + 15 km kearah Timur ibu kota kecamatan Pinolosian Timur atau ± 108 Km dari Ibu Kota Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Batas desa Posilagon sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Maluku dan Desa Perjuangan, sebelah Timur berbatasan dengan Desa Iligon, dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Onggunoi.

Desa ini mempunyai luas wilayah kurang lebih 2.800 hektar,dengan luas lahan pertanian/perkebunan kurang lebih 1.000 hektar selebihnya adalah kawasan hutan bakau, APL, HPT, hutan lindung dan pemukiman penduduk.

Rekonstruksi terbentuknya Desa Posilagon berdasarkan pada, faktor sosial berupa perilaku interaksi sosial fakta mental berupa keyakinan masyarakat sejak turun temurun dan benar adanya, faktor artefak  berupa peninggalan yang masih ada hingga kini.

Menurut penuturan beberapa tua-tua Kampung Posilagon pada masa lampau (prasejarah), pada Tahun 1900 didatangi sekelompok orang  dengan kapal Sope yaitu perahu layar pada zaman itu yang di kepalai oleh seorang Nahkoda yang bernama  Masaoed Walang yang berasal dari d,aerah Minahasa dan sejak saat itu beliau tinggal bersama keluarga dan mulai membuka wilayah ini.

Selang beberapa waktu kemudian, terbentuklah sebuah pemukiman yang terdiri dari beberapa orang keturunan dari Masaoed Walang dengan menantunya yang bernama Bontod Dilapanga. Setelah itu mulailah berdatangan sekelompok-sekelompok orang dari beberapa daerah.

Pada tahun 1950 , Keluarga, Naftali Boroni dan Minder Adrian yang berasal dari daerah Minahasa mendatangi wilayah ini, kemudian di Tahun 1966 sekelompok orang dari daerah Gorontalo yang di pimpin oleh Kodombi Mantulangi juga menyusul dan mendiami pedalaman daerah pemukiman ini, selanjutnya pada tahun 1970 datang lagi sekelompok orang dari kepulauan Sangihe dan Talaud dengan kapal layar yang benama Nekad dan Restu yang di nakhodai oleh dua orang Juragan kakak beradik yang bernama Timotius Takarendehang dan Abednego Takarendehang yang kemudian bermukim di daerah Hilir wilayah ini.

Seiring berjalannya waktu, terbentuklah sekelompok masyarakat yang bermukim di suatau wilayah  yang mulai di atur batas-batas wilayah hukumnya sehingga menjadi sebuah Pedukuhan di bawah naungan Pemerintahan Desa Onggunoi, dan oleh penghuni awal di wilayah tersebut maka pemukiman tersebut di namakan “POSILAGON“.

Nama Posilagon diambil dari letak Topografi dan Geografi wilayah itu yang mempunyai selat seperti Cermin dan Air jernih sejernih Cermin, dimana Posilagon dapat dikatakan sebagai Cerminan tempat berbaurnya berbagai Suku, Ras, Agama yang senantiasa hidup rukun dan damai dalam perbedaan di wilayah yang terpencil dan terisolir, namun perbedaan itu mampu membangun rasa persatuan, persaudaraan. Kini Posilagon menjadi sebuah desa otonom yang masih terus mempertahankan tradisi gotong- royong yang di namakan Mapalus.

Saat ini Desa Posilagon dipimpin oleh Sangadi Masri Dilapanga, dimana sebagian besar mata pencaharaian masyarakat desa tersebut adalah Petani dan nelayan, dimana di desa ini juga dikenal kaya akan sumber daya alamnya, dimana Pulau Lampu menjadi salah satu icon wisata yang sangat diminati pengunjung baik dari dalam daerah maupun luar daerah Bolsel.

Setelah Kabupaten Bolaang Mongondow dimekarkan menjadi 4 Kabupaten dan 1 Kota, Desa Posilagon sudah menjadi bagian dari wilayah Kecamatan Pinolosian Timur Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

 

Aspriadi Paputungan