Dinkes Bolsel Publikasikan Hasil Analisis Data Pengukuran Stunting Tahun 2020

0
99

LS,BOLSEL- Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan melalui instansi teknis Dinas Kesehatan Publikasikan Hasil Ananalisi Data Pengukuran Stunting Tahun 2020.

Berikut Perkembangan Sebaran Prevalensi Stunting berdasar tahun 2019 dan 2020 berdasarkan kan hasil pemantauan status Gizi di 81 yang tersebar di 7 Kecamatan se- Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan.

Kecamatan Bolaang Uki (Wilayah Kerja Puskesmas Molibagu)

Kondisi Stunting di Kecamatan Bolaang Uki Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menunjukkan bahwa pada tahun 2020 (data per 30 Oktober 2020) ada 10 (sepuluh) desa yang mengalami peningkatan prevalensi stunting jika dibandingkan dengan tahun 2019; yaitu : Tangaggah, Pinolatungan, Dudepo Barat, Soguo Popodu, Sondana, Salongo Barat, Tolondadu I, Salongo dan Toluaya. Sedangkan untuk 4 desa yang menjadi lokus stunting (tahun 2020 dan 2021) mengalami penurunan prevalensi stunting yaitu : Molibagu dari 18,58 (2019) menjadi 12,77% (2020), Tangaggah 10,87 % ((2019) menjadi 8,33% (2020), Tabilaa 9.76 (2019) menjadi 6,49% (2020) dan Dudepo 14,58% (2019) turun menjadi 5,3% (2020). Ada 1 (satu) desa yang mengalami penurunan secara signifikan prevalensi stunting yaitu desa Salongo Timur dari 6.06% (2019) menjadi 0 (2020).

Kecamatan Posigadan (Wilayah Kerja Puskesmas Posigadan)

Berdasarkan hasil pemantauan tumbuh kembang balita pada kegiatan penimbangan balita di posyandu pada tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa masih ada kasus stunting di wilayah Kecamatan Posigadan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dimana terjadi peningkatan prevalensi stunting di 5 desa pada tahun 2020 yaitu : Lion dari 5.95 (2019) naik menjadi 10,62% (2020), Saibuah 5.05% (2019) menjadi 11.90% (2020), Manggadaa 4.76% (2019) menjadi 5,80% (2020), Momalia II 3,68% (2019) menjadi 7.81% (2020) dan Sakti 3.13% (2019) menjadi 4.17% (2020). Terjadi penurunan prevalensi stunting di 2 desa (Meyambanga dan Sinombayuga), dan untuk 5 (lima) desa lokus itu terjadi penurunan  prevalesi Stunting yaitu : Luwoo 11,11% (2019) menjadi 3.68% (2020), Iloheluma 6,67% (2019) menjadi 1,49% (2020), Momalia I 12,27% (2019) menjadi 4.41% (2020), Meyambanga Timur 7.69% (2019) menjadi 7.50% (2020) dan Molosifat 7,69% (2019) menjadi 3,03%( 2020); ke 5 (lima) desa ini merupakan lokus stunting untuk tahun 2020 dan 2021.

Kecamatan Pinolosian (Wilayah Kerja Puskesmas Pinolosian)

Berdasarkan hasil pemantauan tumbuh kembang balita melalui pelaksanaan pengukuran dan penimbangan yang dilakukan  tahun 2019 dan 2020 menunjukkan masih ada kasus stunting hampir di beberapa desa di wilayah Kecamatan Pinolosian Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, kecuali di 1 (satu) desa yaitu Pinolosian yang tidak di temukan kasus stunting (data Oktober 2020).

Terjadi kenaikan prevalensi stunting di 2 (dua) desa  yaitu Pinolosian Selatan menjadi 5.56% (2020) dari 4.26% (2019) dan Kombot Timur 6,25% (2020) dari 0 kasus di tahun 2019. Sedangkan untuk 2 (dua) desa lokus terdapat penurunan prevalesi stunting yaitu : Linawan 13,21% (2019) turun menjadi 3,85% (2020), Nunuk 14,29% (2019) menjadi 1.01% (2020) sedangkan 1 (satu) desa lokus mengalami kenaikan prevalensi stunting dari 7,04% (2019) menjadi 7,69% (2020); ke 3 (tiga) desa merupakan lokus stunting pada tahun 2020 dan 2021.

Kecamatan Pinolosian Tengah (Wilayah Kerja Puskesmas Adow)

Adapun hasil pemantauan tumbuh kembang balita  di  posyandu, dengan melakukan pengukuran/penimbangan pada semua balita pada tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa walaupun terjadi penurunan prevalensi stunting tapi masih terdapat kasus stunting di wilayah Kecamatan Pinolosian Tengah  Kabupaten, terdapat 1 (satu) desa yang mengalami peningakatan prevalensi stunting yaitu desa Tobayagan 4,05% (2019) naik menjadi 4,17% (2020). Terdapat 7 (tujuh) desa mengalami penurunan prevalensi stunting, termasuk 5 (lima) desa diantarnya yang merupakan lokus stunting dengan prevalensi stunting yang tertinggi (data ePPGBM tahun 2019). Adapun ke 5 (lima) desa lokus yang  mengalami penurunan prevalensi stunting yaitu : Adow 14,46 (2019) turun menjadi 3,45% (2020), Torosik 8,70% (2019) menjadi 0 (2020), Mataindo 9,76% (2019) menjadi 3,39% (2020), Deaga 8,33% (2019) menjadi 0 (2020), dan Tobayagan Selatan 5,88% (2019); merupakan desa lokus pada tahun 2020 dan 2021.

Kecamatan Helumo (Wilayah Kerja Puskesmas Duminanga)

Berdasarkan hasil pemantauan tumbuh kembang yang dilaksnakan pada tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa masih ada kasus stunting di beberapa  desa di wilayah Kecamatan Helumo Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, kecuali di 2 (dua) desa yaitu Sinandaka (Lokus 2020 dan 2021), Biniha Selatan, Biniha Timur  terdapat 0 kasus (data ePPGBM Oktober 2020). Terjadi penurunan prevalensi stunting di 5 (lima) desa pada tahun 2020 yaitu : Bakida, Halabolu, dan Duminanga. Adapun desa yang mengalami kenaikan prevalensi stunting yaitu Soputa 7,32% (2019) naik menjadi 14,29% (2020), Pangia 4,40% (2019) menjadi 6,25% (2020), Transpatoa 0 kasus (2019) menjadi 2.38% (2020) dan Biniha 2,94% (2019) menjadi 2,99% (2020). Terdapat 5 (lima) desa lokus pada tahun 2020 dan 2021 (Soputa, Sinandaka, Bakida dan Halabolu).

Kecamatan Tomini (Wilayah Kerja Puskesmas Milangodaa)

Hasil pemantauan tumbuh kembang balita balita melalui kegiatan pengukuran/penimbangan tahun 2019 dan 2020 dari 6 (enam) desa di Kecamatan Tomini Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menunjukkan bahwa masih ada kasus stunting di beberapa desa dimana 3 (tiga) desa mengalami kenaikan prevalensi stunting yaitu : Pakuku Jaya, Milangodaa Barat dan Botuliodu. Terjadi penurunan prevalensi stunting di 3 (tiga) desa lokus yaitu : Nunuka Raya 13,25% (2019) turun 5,00% (2020), Tolutu 11,32 % (2019) menjadi 7,59% (2020) dan Milangodaa 14,13% (2019) menjadi 0,94% (2020). Ke 3 (tiga) desa merupakan lokus pada tahun 2020 dan 2021.

Kecamatan Pinolosian Timur (Wilayah Kerja Puskesmas Dumagin)

Berdasarkan hasil pemantauan pengukuran/penimbangan pada kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita pada tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa masih ada 1 (satu) desa yang masih ada kasus di wilayah Kecamatan Pinolosian Timur Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (wilayah kerja Puskesmas Dumagin), dan desa tersebut merupakan lokus stunting tahun 2020 dan 2021. Terdapat 3 (tiga) desa yaitu Mataindo, Mataindo Selatan dan Dumagin A terjadi penurunan prevalensi stunting pada tahun 2020. (data pada gambar grafik).

Kecamatan Pinolosian Timur (Wilayah Kerja Puskesmas Onggunoi)

Berdasarkan hasil pemantauan status tumbuh kembang balita di wilayah kerja Puskesmas Onggunoi Kecamatan Pinolosian Timur Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan pada tahun 2019 dan 2020 menunjukkan bahwa ada penurunan prevalensi stunting pada 7 (tujuh) desa lokus pada tahun 2020. Prevalensi stunting mengalami penurunan yang signifikan pada 6 (enam) desa lokus yaitu : Onggunoi Selatan 8,57 (2019) turun menjadi 0 kasus, Onggunoi 6,67 (2019) menjadi 0 kasus (2020), Pidung 6,90% (2019) menjadi 0 kasus, Modisi 7,32% (2019) menjadi 0  kasus, Posilagon 6,90% menjadi 0 kasus dan Iligon 10.26% (2019) menjadi 0 kasus ditahun 2020; terdapat 1 (satu) desa lokus yang masih ada kasus stunting yaitu Perjuangan 9,38% (2019) turun 3,85% (2020, (data ePPGBM Oktober 2020); ke 7 (tujuh) desa tersebut merupakan lokus pada tahun 2020 dan 2021.

Faktor Determinan Yang Memerlukan Perhatian

Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi balita, tingkat Kecamatan di Kabupaten Bolaang Mogondow Selatan adalah :

  1. Partisipasi masyarakat untuk datang ke Posyandu kurang, terutama bagi balita yang sudah imunisasi lengkap tidak mau lagi ke Posyandu.
  2. Masih kurangnya pengetahuan gizi ibu akan manfaat pemberian ASI eksklusif
  3. Pola asuh dalam pemberian MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) yang tidak sesuai dengan umur balita
  4. Tingkat konsumsi zink yang masih rendah
  5. Masih ada sebagian masyarakat yang belum dapat menjangkau akses air bersih.
  6. Masih ada sebagian masyarakat yang belum mempunyai jamban sehat (ODF).
  7. Masih ada balita yang belum mendapat imunisasi
  8. Riwayat ibu hamil pada masa kehamilan yang kurang baik, kurangnya asupan gizi dan tidak terpantau kesehatannya karena tidak memeriksakan kehamilannya secara teratur.
  9. Adanya penyakit penyerta.
  10. Pola asuh terhadap balita yang salah.
  11. Belum maksimalnya Tim Koordinasi Percepatan penanggulangan stunting di tingkat Desa.
  12. Komitmen Kepala Desa dalam pencegahan dan penanggulangan stunting.
  13. Belum adanya koordinasi yang baik antara LP dan LS dalam penanggulangan stunting di tingkat Desa.

Perilaku Kunci RT 1000 HPK yang Masih Bermasalah

Perilaku kunci Rumah tangga 1000 HPK yang masih bermasalah adalah :

  • Paritas tinggi sehingga ada balita yang di asuh oleh keluarga karena ibu sedang dalam keadaan hamil
  • Kehamilan pada usia dini sehingga terjadi persaingan perebutan nutrisi antara janin dan ibu yang masih dalam masa pertumbuhan
  1. Belum semua ibu hamil minum secara rutin tablet tambah darah (TTD) selama kehamilan (90 tablet).
  2. Masih ada ibu bersalin yang ditolong persalinannya oleh bukan tenaga kesehatan (dukun).
  3. Budaya/kebiasaan masyarakat Bayi 0-11 bulan sudah diberikan makanan tambahan selain ASI.
  4. Masih kurangnya pengetahuan ibu balita tentang makanan dengan gizi seimbang untuk balita.
  5. Perilaku masyarakat tidak mau membawa anaknya ke Posyandu, setelah balita mendapat imunisasi lengkap.
  6. Masih ada sebagian ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan.
  7. Masih kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang makanan dengan gizi seimbang untuk ibu hamil.

Kelompok Sasaran Berisiko

Kelompok sasaran berisiko dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus stunting adalah sebagai berikut :

  1. Masyarakat yang masih memegang teguh adat kebiasaan, misalnya memberikan makanan tambahan pada bayi 0-11 bulan, sebelum 40 hari bayi tidak boleh keluar rumah.
  2. Masyarakat yang tinggal di wilayah bantaran sungai, menggunakan air sungai masyarakat adat terpencil, keluarga dengan ibu sebagai kepala keluarga); dll
  3. Masyarakat dengan ibu balita yang bekerja, balita diasuh oleh orang lain.
  4. Masyarakat yang kurang mampu/miskin, sehingga daya beli terhadap pangan kurang.
  5. Masyarakat mampu tapi tidak mempunyai/kurang pengetahuan tentang makanan dengan gizi seimbang.

Dari permasalahan tersebut diatas sehingga dalam pencegahan dan penanganan stunting perlu adanya dukungan dan partisipasi masyarakat LP/LS ditingkat Desa. Dalam intervensi pencegahan dan penanganan stunting disesuaikan dengan permasalahan yang terjadi di masing-masing Desa.

 

Aspriadi Paputungan