Pemkab Bolsel dan WCS Gelar Wawancara Bersama Nelayan Terkait Keberadaan Dugong

0
235

LS,BOLSEL– Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan Wildlife Conservation Society (WCS) gelar wawancara bersama nelayan terkait keberadaan Dugong diperairan laut Bolsel, Minggu (18/10/2020) hari ini.

Kepala Bappelitbangda Bolsel Harifin Matulu S Pd, MAP melalui Sekretaris Bappelitbangda Bobby Sampe S.IK, saat mengunjungi nelayan di Desa Ilomata Kecamatan Pinolosian menyampaikan terkait tujuan digelarnya wawancara bersama para nelayan.

“Pada kegiatan ini kami dari Pemkab Bolsel bekerjasama dengan WCS untuk turun langsung ke lapangan untuk mengumpul data atau informasi melalui wawancara langsung dengan para nelayan dari wilayah Molosipat hingga Iligon, nantinya setelah data ini akan dievaluasi, kemudian Pemkab Bolsel melalui Bappelitbangda akan menyusun data ini dalam bentuk dokumen untuk mendukung pelaksanaan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan,” jelas Bobby.

Sementara itu, DR. Keyra, Spesialis Konservasi WCS menyampaikan bahwa diwilayah ini pernah dicatat sebagai kawasan berkonservasi tinggi karena keberadaan Dugong.

“Pada wawancara ini, kami mengajukan sejumlah pertanyaan kepada para nelayan di pesisir pantai apakah pernah melihat satwa ini (Dugong),”ungkap Keyra.

Dugong adalah bagian dari ordo Sirenia. Semua anggota Sirenia adalah mamalia laut herbivor, dan telah beradaptasi dengan baik dengan lingkungan lautnya. Ordo Sirenia terdiri atas dua family, yaitu Trichechidae dan Dugongidae.Dugong adalah salah satu dari dua anggota family Dugongidae; anggota lainnya, yaitu Sapi Laut Steller (Hydrodamalis gigas) telah punah akibat perburuan di abad ke-18, hanya 30 tahun setelah ditemukan, namun dugong terutama memakan lamun saja.

Perkembangbiakan dugong lebih mirip mamalia yang semuanya di lakukan di laut dengan interval kelahiran 3 sampai 7 tahun. Semua anak dugong juga menyusu pada induknya sampai umur 1 – 2 tahun. Dugong betina memiliki masa gestasi (kehamilan) sekitar 14 bulan dan melahirkan satu anak untuk tiap 2,5 hingga 5 tahun. Anak akan didampingi induknya hingga sekitar 18 bulan, karena masih membutuhkan susu induknya.Dugong mencapai ukuran dewasa setelah berumur 9 tahun dan umumnya dugong bertahan hingga mencapai umur 20 tahun.

Yang paling unik dari dugong adalah anak dugong akan selalu berenang di samping induknya terutama dalam dalam keadaan bahaya. Dugong menanggung anaknya pada waktu setelah sekitar 13-bulan kehamilan. Merawat anaknya tersebut selama dua tahun dan mencapai kematangan seksual antara usia 8-18, lebih lama daripada di mamalia yang lain.

Meskipun umur Dugong yang panjang (dapat hidup selama lima puluh tahun atau lebih), Dugong betina melahirkan hanya beberapa kali sepanjang hidup mereka dan berinvestasi cukup besar dalam perawatan orangtua muda mereka. Dugong juga gemar berkelompok antara 5 – 10 ekor yang terdiri dari induk jantan, betina dan anaknya atau bergerombol terutama di waktu musim kawin. Tetapi ada kalanya Dugong suka menyendiri. Dugong memiliki sifat monogamy dan berkembang biak sangat lambat. Biasanya beranak setiap 2 tahun sekali dimana setiap kali beranak hanya 1 ekor dan jarang kembar dua. Karena siklus reproduksi yang lamban tersebut, populasi dugong diduga hanya dapat bertahan dengan angka mortalitas yang sangat rendah, yaitu sekitar 1 – 2% tiap tahunnya.

Aspriadi Paputungan