Sejarah Desa Motandoi

0
1476

LINTAS SELATAN, BOLSEL- Desa Motandoi adalah salah satu desa definitif di wilayah Kecamatan Pinolosian Timur, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, Provinsi Sulawesi Utara.

Desa Motandoi

Secara geografis desa ini berada di pesisir pantai serta daratan yang dikelilingi gunung dan perbukitan, dengan luas wilayah + 615 KM persegi.

Asal nama Motandoi diberikan oleh para Bogani yang mendiami suatu wilayah di Bolaang Mongondow, yang artinya tempat memasak makanan (makanan yang berupa daging mentah yang diisi di dalam bambu, kemudian diletakan diatas bara api dalam posisi miring), lalu terciptlah nama Pinotandoyan yang dalam perkembangan selanjutnya menjadi Motandoi.

Pada awalnya, desa ini pertama kali dibuka oleh orang-orang yang berasal dari Desa Pobundayan dan Moyag (Kotamobagu) yang diprakarsai seorang Kepala Kelompok yang bernama Fiter Vandeim yang merupakan seorang pelaut dari Belanda. Setelah mengembara diwilayah Bolaang Mongondow bagian Selatan yang kini sudah menjadi Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan, dirinya menetap di Desa Tobayagan (Pinolosian Tengah) kemudian masuk ke wilayah Motandoi.

Tujuan kedatangan orang-orang dari Desa Pobundayan dan Moyag saat itu adalah untuk membuat garam dan menangkap ikan, awalnya hanya terdiri dari 7 Kepala Keluarga dan dalam perkembangan selanjutnya menjadi 36 KK, saat itu wilayah Motandoi masih sebuah perkampungan nelayan yang bermukim ditepi pantai.

Pada tahun 1980, diangkatlah Suba Mamonto menjadi Sangadi untuk yang pertama kalinya yang berasal dari Desa Moyag, kemudian pada tahun 1901 Suba Momonto mengundurkan diri dan digantikan oleh Ganggai Paputungan. Pada masa pemerintahan Ganggai Paputungan baru ditetapkan sebagai suatu desa.

Setelah pemerintahan Ganggai Paputungan, Motandoi dipimpin Umar Kapugu selama + 20 tahun lamanya (1910-1934), setelah kepemimpinan Umar Kapugu, Desa Motandoi dipimpin Hasan Badu yang berasal dari Gorontalo yang memimpin desa ini pada tahun 1934 hingga 1937 dan Tahun 1941-1945 untuk yang kedua kalinya.

Pada pemerintahan Hasan Badu, di desa ini didirikan Yayasan Pendidikan Islam kemudian didirikan Sekolah Dasar yang saat itu disebut Sekolah Rakyat Badan Pembantu Pendidikan Islam yang kemudian pada tahun 1977 berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri. Pada masa pemerintahan Y.U Langkau, Desa Motandoi banyak mengalami perkembangan, dan di tahun 1979 beliau memperoleh penghargaan dari Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia sebagai Kepala Desa Terbaik se-Sulawesi Utara.

Setelah kepemimpinan Y.U Langkau berakhir, desa Motandoi dipimpin oleh U.R Damopolii yang berlangsung selama 2 tahun, setelah itu dilanjutkan oleh Sangadi I.O Vandeim dari tahun 1987 hingga 2008.

Pemerintahan Desa Motandoi saat ini dipimpin oleh Sangadi Hamjan Mohama sebagai Sangadi Motandoi yang ke- 14, dimana dirinya pada pemilihan sangadi tahun 2009 silam, secara demokratis terpilih sebagai Sangadi. Seusai masa pemerintahan Hamjan Mohama, kembali dilakukan pemilihan Sangadi, dan Hamjan Mohama terpilih dan kembali memimpin Desa Motandoi untuk yang kedua kalinya periode 2015-2020.

Tokoh-tokoh yang pernah memimpin desa Motandoi yaitu Suba Mamonto (1901-1905), Ganggai Paputungan (1905-1910), Umar Kapugu (1910-1934), Hasan Badu (1934-1937), Uweng Langkau (1937-1939), Israel Manoppo (1939), Insanu Paputungan (1939-1941), Hasan Badu (1941-1945), Yos Manoppo (1945-1947), Hud Sugeha (1947-1949), Yusup Langkau (1949-1985), Umar R Damopolii (1985-1987), Imban O Vandeim (1987-2009), Hamjan Mohama (2009-2014), Hardy Mamonto (2014-2015), Hamjan Mohama (2015 hingga saat ini).

 

Aspriadi Paputungan.